PROGRAM PENDIDIKAN TK
UTS
PROGRAM PENDIDKAN TK

Ani safrida
189000020
FAKULTAS
PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
PG –
PENDIDKAN ANAK USIA DINI UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA 2018
PENTINGNYA
PROGRAM PENDIDIKAN TK DALAM RANGKA MENYIAPKAN GENERASI EMAS 2045
Tahun 2003, Pasal satu
menyatakan bahwa Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada
setiap jenjang dan jenis pendidikan. Dari ke tiga jalur pendidikan tersebut
Pendidikan nonformal didefinissikan sebagai jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dalam pasal
26 undang-undang tersebut pada ayat 1 bahwa Pendidikan nonformal
diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang
berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Artinya bahwa warga
masyarakat memiliki peranan penting dalam melaksanakan kegiatan pendidikan
untuk generasi muda. Bahwa masyarakat bekerja sama dengan pemerintah dalam
mewujudkan pendidikan sepanjang hayat (ongoing Formation). Adapun fungsi
Pendidikan nonformal yakni mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan
pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan
sikap dan kepribadian profesional. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan non
formal lebih menekankan fungsi motorik pada peserta didik untuk tampil dalam
dunia usaha, fungsi pendidikan non formal.
pasal 26 ayat 2 pada
undang-undang tersebut diatas. Ada beberapa bentuk Pendidikan nonformal antara
lain: pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan
kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan,
pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta
pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Dan
adapun landasan hokum tentang pendidikan anak usia dini
1. Landasan hukum yuridis
A. bedasarkan
amandemen UUD 1945 dinyatakan bawah setiap anak berhak memperoleh pendidikan
pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya
sesuai dengan minat dan bakatnya. Mengacu pada UUD nomor 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional bab 1 pasal 1 butir 14 menyatakan “bahwa pendidikan
anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang di tunjukan kepada anak sejak
lahir sampai usia 6 tahun yang di lakukan oleh pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan perkembangan jasmani dan rohani anak agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut”. Sedangkan pada
pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan
sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat
diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal,
(3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain
yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB,
TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan
informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh
lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah.”
B.
Landasan
filosofi pendidikan merupakan suatu upaya memanusiakan manusia.
Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang
baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara,
karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan
filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi
atau tujuan pendidikan. Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila
berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan
pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya. Bangsa Indonesia juga
sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam
semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari
semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak
individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak
sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendapatkan pendidikan yang
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan
diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga
kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan.
C.
Landasan
keilmuan Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka
keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari
beberapa displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu
pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neurosains
atau ilmu tentang perkembangan otak manusia (Yulianai Nurani Sujiono, 2009:
10). Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini
merupkan masa peletak dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan
anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini, apakah itu makanan, minuman,
serta stimulasi dari lingkungannya memberikan kontribusi yang sangat besar pada
pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa itu dan berpengaruh besar
pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak
tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Secara
empiris, begitu banyak penelitian yang menghasilkan kesimpulan betapa
pentingnya PAUD atau pendidikan anak usia dini, karena pada waktu manusia
dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani Nurani Sujono, 2009) kelengkapan
organisasi otaknya mencapai 100 – 200 milyard sel otak yang siap dikembangkan
dan diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan optimal, sementara
sejumlah hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai
karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.
2. Tahap perkembangan
anak memang lekat hubungannya dengan tahapan di masa anak usia dini. Karena di
masa inilah, anak mulai belajar dan terbentuk untuk menjadi kepribadian yang
seperti apa di masa depan.Secara umum,istilah anak usia dini merujuk pada
anak-anak yang masih berusia 0-8 tahun. Sebab kajian dalam rumpun keilmuan PAUD
menyatakan bahwa PAUD dulaksanakan sejak usia 0-8 tahun atau lebih dikenal
dengan istilah "usia emas". Sementara dalam ruang lingkup anak usia
dini meliputi bayi (0-1tahun), balita (2-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun)
dan usia sekolah awal (6-8 tahun). Pada usia seperti inilah anak sangat
membutuhkan stimulasi sesuai kelompok usia dan kemampuannya. Oleh karena itu,
tahapan perkembangan pada anak usia dini mulai dari fisik, kognitif ,bahasa
,emosi dan sosial. Perkembangan fisik anak usia dini yang berfokus pada
pertambahan berat badan, tinggi, otak serta keterampilan motoric kasar dan
halus. Motorik kasar yaitu kemampuan
anak untuk bergerak, melompat, dan berlarian. Motorik halus yaitu,kemampuan dan keterampilan fisik yang lebih
melibatkan otot kecil dan koordinasi pada mata dan tangan. Menurut Jean Piaget, Profesor Psikologi dari Universitas Geneva,
Swiss, dalam teori perkembangan kognitif (cognitive theory) menyatakan,
anak-anak sebetulnya memiliki cara berpikir layaknya orang dewasa. Yang dibagi
dalam empat tahap:
·
Pertama, tahap sensorimotor (usia 0-24 bulan)
adalah masa anak memiliki gerak refleks yang terbatas.
·
Kedua, tahap pra-operasional (2-7 tahun) anak
sudah mulai dapat rangsangan tapi masih terbatas.
·
Ketiga, tahap operasional konkret (7-11 tahun)
anak secara mental bias melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bias dilakukan
secara fisik.
·
Keempat, tahap operasional formal (7-15 tahun)
pada tahap individu sudah mulai memikirkan
·
pengalaman diluar pengalaman konkret, dan
memikirkannya secara lebih abstrak, idealis, dan logis.
Anak
usia dini pada umumnya memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, unik, suka
dengan imajinasi, fantasi ,egois,dan konsentrasi yang relatif pendek. Itulah
mengapa proses pembelajaran pada anak usia dini seringkali lebih efektif
disampaikan dengan melibatkan kegiatan atau permainan interaktif. tahap
perkembangan pada anak usia dini yang perlu diketahui dalam bekal mendidik anak.
3.Karakter bangsa dan berdaya asing
Pendidikan 4.0 yang bercirikan pemanfaatan
teknologi digital dalam proses pembelajaran dikenal dengan sistem siber (cyber
sistem ) dan mampu membuat proses pembelajaran berlangsung secara kontinu tanpa
batas ruang dan tanpa batas waktu. pendidikan
karakter bangsa melalui jalur sekolah. Implementasi pendidikan karakter bangsa
dilakukan secara terintergrasi dalam proses pembelajaran pada setiap mata
pelajaran baik bersifat intra kurikuler maupun ekstra kurikuler. Revitalisasi
implementasi pendidikan karakter bangsa oleh guru dilakukan dengan meningkatkan
daya inovasi yang berbasis teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi
dalam implementasi pendidikan karakter bangsa akan meningkatkan wawasan dan
kompetensi global dan pada akhirnya diharapkan dapat menghasilkan lulusan
berdaya saing global. Kesimpulan bahwa implementasi pendidikan karakter bangsa
diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa secara massive, oleh guru
dengan daya inovasi tinggi dengan berbasis pada teknologi informasi
Pendidikan
karakter dapat dikatakan sebagai usaha manusia secara sadar dan terencana dalam
hal mendidik sekaligus memberdayakan peserta didik dengan tujuan membangun
karakter pribadi peserta didik. Menurut John W. Santrock, pendidikan karakter
merupakan pendidikan dengan pendekatan langsung pada peserta didik dengan
tujuan menanamkan nilai moral sehingga dapat mencegah perilaku yang dilarang.
Pendidikan
karakter berhubungan erat dengan psikis individu. Dengan pendidikan karakter,
dapat diajarkan pandangan tentang nilai-nilai kehidupan, contohnya kejujuran,
kepedulian, tanggung jawab, hingga keimanan.
4.hal-hal
yang mempengaruhi program pendidikan TK
mempengaruhi
Pendidikan Anak Usia Dini baik dalam hal belajar, berbicara, bersikap dan
bertingkah laku dalam kehidupannya, model belajar anak usia dini dapat
dipengaruhi beberapa hal-hal yaitu
·
lingkungan sangat penting dalam belajar anak
usia dini seperti cahaya,suara,suhu dan kebisingan dan model kelas anak di
biasakan untuk mendengarkan berbagai suara agar anak lebih faham dan mudah
mengerti apa yang disimaknya dalam pembelajaran.
·
Social merupakan yang mendorong anak dalam
berkomunikasi dengan teman sebayanya dengan cara memberikan kegiatan secara
berkelompok atau terdiri dari beberapa anak agar menumbuhkan sikap social yang
lebih baik.
·
Emosional anak sangat berhubungan dengan motivasi
jadi jangan bosen dengan hal-hal memotivasi anak karena itu sangat dibutuhkan
meningkatkan minat belajar anak
·
Fisik harus disipkan juga sebelum proses belajar
mengajar, karena kesiapan fisik anak usia dini ketika pembelajaran berlangsung
akan mempengaruhi anak dalam menerima informasi pelajaran yang diberikan oleh
guru, sebagai orang tua harus benar-benar mempersiapkan fisik anaknya ketika
proses pembelajaran
Komentar
Posting Komentar